Postingan

Ke Ustadz-ustadz Itulah Saya Belajar Memaki

Luar biasa memang jaman now ini, kita sangat dimanjakan dengan adanya fasilitas internet yang sudah sedemikian rupa, hingga (kalau tidak bisa mengendalikan diri) bisa terlena dan habislah waktu kita terserap olehnya. Baru di kanal youtube saja, konon katanya, untuk bisa menonton semua yang ada disana seumur hidup kitapun ngga akan selesai, karena saking banyaknya. Dan karenanya pula, seolah apapun yang ingin kita cari akan bisa didapatkan, yang bermanfat maupun tidak, yang baik-baik maupun yang menjijikkan. Barangkali kata menjijikkan bagi sebagian kita akan terasosiasi pada hal-hal yang lebih bersifat pornografis meskipun tidak selalu demikian, karena ada banyak diluar pornografi yang bisa membuat kita muak dan merasa jijik. Dari banyak hal itu apa yang lebih menjijikkan, menurut saya, adalah jika orang berbicara agama tetapi di dalamnya bercampur dengan hal-hal yang berlawanan dengan ajaran agama itu sendiri. Pensitiran kalam-kalam suci lalu diikuti cacian, makian, hinaan, kata-...

Nasehat Diri

Ketahuilah, untuk menyebutmu sebagai radikal itu tidak harus menunggumu membuat kerusakan. Dan pernyataan kerasmu "Andai kami-kami ini radikal, kalian sudah habis semua, ibukota ini sudah rata dengan tanah" tidak serta merta merubah pandangan terhadapmu. Pun ketika dengan kalimat lain kamu berujar "Lihat, bahkan rumputpun kami jaga, tidak kami rusak dengan menginjak-injaknya" tak lantas pula menggeser orang dari penilaiannya karena yang ada malah nampak menggelikan. Betapa tidak, kamu sanggup tidak merusak rumput tapi kamu sanggup menyakiti hati saudara seagamamu dengan apa yang kamu lakukan selama ini. Apakah menurutmu saudara seagamamu tidak lebih berharga dari sekedar hamparan rumput?. Pun juga, ketika kamu tidak bersetuju dengan ucapan atau perbuatan/kegiatan orang atau kelompok diluarmu lantaran berbeda dengan penafsiranmu, hargai perbedaan yang ada itu dengan tidak mengganggu mereka lewat provokasi dan hasutan apalagi pengerahan massa untuk menekan, memak...

Rocky Gerung, Sang Fenomenal?

Sudah sekian bulan ini nama Rocky Gerung yang tak terpisahkan dari kata "Akal Sehat dan Dungu" ini selalu menjadi buah bibir. Dia dielu-elukan dan banyak mendapat sanjungan serta pujian dari banyak kalangan lantaran 'ilmu dan kecerdasannya' serta kelugasannya dalam berpendapat dan berargumentasi. Banyak yang terpikat dengan kepiawaiannya dalam memilih dan merangkai kosa kata dalam mengekspresikan pikiran-pikirannya itu, hingga yang tadinya tidak suka silogisme dan alergi pada ilmu filsafat bahkan mensesatkannya mendadak berubah haluan menjadi penggemar baru keilmuan itu. 'Sihir' Rocky ini melahirkan ungkapan "No Rocky No Party". Mumtaz!. Kepopuleran semacam ini tentu tidak luput dari pantauan seorang produser acara karena secara bisnis tayangan jelas akan sangat menguntungkan untuk mendulang rating yang ujungnya mendatangkan fulus dari para pengiklan. Tidak heran jika dia laris manis diundang sebagai nara sumber untuk acara-acara talk show di berba...

Bonus Demografi Itu Mesti Terselamatkan!

Fenomena menarik yang belakangan ini tengah mengemuka adalah cerita tentang banyaknya angkatan muda kita, para remaja pelajar kita yang sedang giat dan gandrung untuk lebih mempelajari agamanya. Antusiasme belajar mereka begitu tinggi. Fenomena yang terjadi ini saya kira sangat menggembirakan mengingat gambaran umum dari masa remaja adalah masa bersuka-ria yang seolah tanpa beban. Tentu kita patut bersyukur dan berbangga pada mereka yang telah tersadarkan akan pentingnya agama sebagai pedoman hidup selagi masih dalam usia belia. Semacam ada harapan baik jika kelak mereka dewasa, telah mempunyai bekal spiritual yang memadai yang akan sangat berguna untuk melanjutkan estafet dalam merawat dan memajukan negeri ini untuk meraih gelar baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. Atas fenomena ini, adakah terbersit sesuatu yang lain selain dari rasa gembira, bangga dan optimisme yang tinggi itu? Ada. Kekhawatiran itu muncul ketika mereka tidak mendapatkan pengajaran yang benar, ketika merek...

Misogyny?

Alkisah, pada masa yang disebut dengan masa jahiliyah, masa kebodohan/kegelapan di wilayah jazirah ada budaya atau tradisi untuk mengubur hidup-hidup jika bayi yang terlahir adalah perempuan. Konon, bagi mereka kelahiran bayi perempuan pada keluarga mereka adalah aib yang harus dihapuskan. Dan dengan cara demikianlah sang aib itu dibersihkan dari rona-rona kehormatan keluarga. Apakah kisah kelam itu dilakukan oleh seluruh keluarga yang ada pada masa dan kawasan itu? Saya meyakini, dalam sebuah lingkungan yang buruk sekalipun masih akan bisa ditemukan yang baik-baik meski barangkali tercecer. Berangkat dari persangkaan inilah, meskipun juga belum menemukan catatan tentang hal ini, saya tetap meyakini bahwa pada masa itu masih ada keluarga-keluarga yang tetap kukuh mempertahankan bayi-bayi perempuan mereka untuk tetap hidup meski beroleh tekanan, cibiran, makian dan provokasi dari lingkungannya. Atau dengan cara sembunyi-sembunyi, proses kelahiran itu diatur sedemikian rupa hingga ...

Ruhamaau Baynahum Yang Kian Jauh

Saya mengira, dengan memperhatikan fenomena yang berkembang di masyarakat khususnya internal muslimin sendiri, bahwa sebuah relasi harmonis penuh kasih sayang antar sesama muslimin yang ada disebut dalam sebuah ayat Al-qur'an, "ruhamaau baynahum", rasanya masih agak jauh untuk bisa dirasakan dan dinikmati. Tidak terlalu berlebihan jika kita terpaksa harus berkesimpulan demikian mengingat apa yang belakangan terjadi, bagaimana diantara orang-orang yang memeluk agama yang sama masih terus-terusan sibuk memperuncing perbedaan yang ada. Lantas melupakan dan mengabaikan banyak hal tentang kesamaannya. Kasih sayang dan cinta yang terkandung dalam ajaran agama itu telah lepas dari 'pengamatan' akibat tertabiri oleh egoisme yang berlebihan, merasa diri dan kelompoknya saja yang paling benar. Seolah tidak ada kebenaran barang secuilpun dari kelompok di luar mereka. Sehingga ketika muncul berbagai persoalan dan perselisihan atas sesuatu, yang menonjol dari padanya lebih ...

Petuah 'Pojokan'

Gambar
Satu seruputan kopi hitam seduhan a-la Americano yang belakangan lebih aku gemari, membawa alam hayalku masuk ke suasana imajiner sebuah pengajian yang imajiner pula... Seorang ustadz dengan kopiah putih tipis model bulat berlilitkan sorban yang juga putih bersih nan rapi, tengah duduk dengan anggunnya di hadapan puluhan jamaah yang dengan takzim dan khusyuk mendengar setiap kata dan kalimatnya. Petuah-petuah yang mengalun dari sepasang bibir ustadz ini acapkali membuat kepala-kepala yang ada di depannya terangguk-angguk membenarkan. Namun tak jarang pula membuat kepala-kepala itu juga menggeleng pelan lalu tunduk tepekur. Menggelengnya bukanlah bantahan melainkan sebuah bentuk keheranan atas sikap dan perilaku diri sendiri, menunduk tepekur sebagai wujud penyesalan atas hal-hal negative yang telah diperbuat. Memang terkadang sang ustadz dalam ceramahnya menyisipkan pula berbagai pertanyaan retoris, ungkapan-ungkapan keprihatinan atas fenomena yang tengah tetjadi di masyarakat, ...

Me-Revisi Doa Pilihan Politik

Ajang pemilihan presiden yang digelar lima tahunan sekali ini rasanya telah benar-benar menyihir (atau malahan sudah meracuni?) kita semua. Hampir semua kalangan terlibat dalam pembicaraan kontestasi ini, lengkap dengan segala narasinya baik itu berupa narasi positive maupun negative. Memang sih, kita bisa belajar tentang banyak hal dari narasi-narasi itu, hanya saja perseteruan yang terbentuk itu sudah bikin neg, atau malahan sudah pada level yang mengkhawatirkan. Seperti permusuhan yang menjauhkan persahabatan bahkan persaudaraan. Yang disebut terakhir ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika kita bisa lebih menahan diri dan menaruh rasa hormat pada orang lain atas perbedaan pilihan politiknya. Menahan diri dari mengeluarkan pernyataan yang bisa melukai perasaan orang lain, misal dengan menyebut goblok, dungu, tidak menggunakan akal sehat dan ujaran buruk lainnya pada kelompok yang tidak sejalan dengan pikiran dan pilihan kita. Karena adalah hal yang sangat naif dan berlebihan ...

Suara Berharap 'Suara'

Bertingkahnya suara-suara itu begitu memekakkan telinga hingga si gendang bergetar menjerit kewalahan, sakit! Atmosfer telah menjadi pengap oleh bau-bau mulut yang menggeser komposisi udara hingga paru-paru terasa sesak oleh defisitnya oksigen. Layar-layar gadget dan lembar-lembar cetak bak terpenuhi huruf-huruf miskin manfaat dan makna hingga membikin mata nanar, dahi berkerenyit. Suara orang-orang berharap 'Suara' itu telah banyak mengganggu kawan! Bising dan gaduhnya yang melebihi ambang malahan mengoyak kerukunan, membelah anak bangsa. Racauan mereka kadang bak candu memabukkan sekaligus menyihir orang banyak ikutan pula gaduh melipat gandakan aroma 'naga'nya tak lagi ambil pusing dengan konten racunnya. Mereka hanya butuh 'Suara' kita! Jargon melangit, pelambungan harapan, boleh jadi hanya akan menetap di awang-awang. Lalu dapat apa kita? Bangga? Menang? Puas? Berasa melakukan penyelamatan? Atau, setelah segala hinaan, cacian, makian, su...

TABU

Pemahaman orang bahwa tabu adalah sesuatu yang tidak boleh atau tidak/kurang pantas untuk; disentuh, dilakukan, dibicarakan, dibahas -baik itu secara terbuka di depan publik maupun tidak- oleh karena suatu alasan tertentu saya kira tidak berubah dari waktu ke waktu. Hanya saja barangkali, subjek atau objek-nya yang terus berubah seiring dengan perubahan dan perkembangan jaman, yang peliputannya (bisa) hampir di semua bidang bahkan hingga pada ranah yang disakralkan sekalipun, yaitu agama. Alasan tertentu yang disebut diatas itu bisa berupa berangkat dari larangan, norma kepantasan, perasaan (segan, malu, takut karena ancaman kekuasaan dan (mungkin) agama atau yang lainnya yang bersifat magis misalnya). Masih teringat ketika masa kanak-kanak dulu ada semacam larangan/anjuran yang tidak jelas dari mana asal-muasalnya, bahwa kalau kita ke laut (khususnya) pantai selatan jangan mengenakan pakaian warna hijau karena bisa mendatangkan celaka. Jika mandi di pantainya itu bisa keseret omba...

Paceklik Nasional

Ini bukan tentang langkanya pangan yang dialami negara dan bangsa kita. Tapi tentang sesuatu yang lebih serius dari sekedar kelaparan yang melilit perut. Ketika politisi kelas satu negeri ini dan orang-orang yang dikenal sebagai pesohor nan cerdas tinggi berakal di tanah air begitu gampang terhasut oleh isu atau kabar yang belum jelas benar duduk perkaranya. Jika rivalitas dalam berpolitik mereka lebih mendominasi dari obyektifitas dalam menarik kesimpulan, apa yang bisa dikatakan lagi selain bahwa kita ini sedang mengalami masa paceklik nasional dalam hal kewarasan dan akal sehat? Sifat dan sikap kurang cermat hingga mudah terhasut -apapun alasan penyebabnya- tentu bukan perkara sepele bagi siapapun, apalagi bagi para aktivis, para calon pemimpin nasional dan calon-calon petinggi pemerintahan yang akan membuat dan menjalankan kebijakan negara. Apa kira-kira yang bisa diharapkan dari mereka jika kelak benar-benar memegang kendali negara dan pemerintahan? Akan berbahaya buat kita s...

Pak Gatot Dan Selera "Monokromnya"

Siapa orangnya sih yang rela citra baiknya tercoreng apalagi luntur? Saya kira tak satupun orang yang mau, karena itu adalah personal capital alias kapital pribadi yang mahal, apalagi jika kapital itu hendak didaya-gunakan sebagai bekal pertarungan di kancah politik. Dan tokoh kita kali ini, Pak Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, juga berusaha menjaga citra positifnya itu meski -menurut saya- sempat terpeleset sedikit namun cukup fatal saat tampil di acara Rosi, sebuah acara Talk Show-nya Kompas TV pada Kamis malam kemarin tanggal 27 September 2018. Apa yang beliau lakukan di akun twitter-nya itu, dengan hanya memajang potongan videonya yang sangat heroik, adalah sesuatu yang bisa ditafsirkan demikian. Tidak memajang video secara lengkap rangkaian acara talk show adalah penting mengingat ada segmen dimana beliau melontarkan pernyataan yang kurang (untuk tidak mengatakan sebagai tidak) argumentatif. Mengapa layak disebut demikian, karena pernyataan beliau sangat spekulatif namun sang...

Ibu Nan Cantik Di Kerumunan Anak-anak Durhaka

Pesona Ibu muda itu sungguh teramat menarik. Sudahlah Elok parasnya, teramat berharta pula. Bisa dipastikan tak bakal ada satupun lelaki yang tidak tertarik kepadanya. Karena, jangankan lelaki, para wanitanya pun sedemikian mengagumi dan menyenanginya. Apa saja yang ada padanya selalu mengundang decak kagum siapapun yang melihatnya hingga tak satupun kecacatan yang bisa ditemukan daripadanya. Banyak para lelaki hidung belang dari yang perlente hingga yang nyaris bangkrut atau mungkin sudah menjelang kere itu berebut memperoleh perhatiannya. Mereka berebut ingin mendapatkan kesempatan menyunting Ibu muda itu dengan segala resikonya. Adu jotos bahkan hingga bertaruh nyawa sekalipun (yang penting bukan nyawanya sendiri) akan mereka lakukan. Dan paduan antara kecantikan-kekayaan yang demikian luar biasa itu, pada satu sisi adalah anugerah dan karunia besar dari Tuhan Yang Maha Memberi, namun pada sisi yang lain menjadi musibah pula baginya. Amat disayangkan memang, 'takdir...

Protagonisme Antagonisme...Setali Tiga Uang!!!

Seruan pemilu damai dari para tokoh yang terlibat kontestasi politik dengan anjurannya agar semua pihak bisa menggelar kampanye sehat, santun dan bermartabat, kadang terdengarnya mirip lagu yang ber-syar indah namun sumbang dan sember terlantunkannya. Bagaimana akan bisa terdengar merdu jika untuk meraup suara dan dukungan, mereka-mereka tak ada lagi sungkan-segannya sama sekali ketika memberikan cap negatif ke pesaingnya. Bahwa penyebutan -baik langsung maupun tidak- pada lawan politiknya sebagai pihak pemeran antagonis dan menganggap diri dan kubunya sebagai protagonis sempurna adalah sikap dan tindakan yang tidak elok sama sekali. Dalam situasi dan keperluan tertentu itulah, sikap antagonisme bagi lawan dan sikap protagonisme untuk diri sendiri, itu setali tiga uang, sama-sama jahat dan buruknya. Saya masih ingat betul pernyataan politisi yang sangat senior yang bergelar profesor itu terjebak dalam pemikiran yang tidak sehat ini sampai berulang kali. Bahkan, beliau sanggup me...

Biarkan Sang Waktu 'Bekerja' Time Is Making Solution.

Gambar
Biarkan waktu yang membuktikan! Mungkin ini yang paling tepat untuk dikatakan sehubungan dengan maraknya gegontokan, serang menyerang, saling hina dan hujat terkait dengan kontestasi politik di tanah air. Biarkan sang waktu juga menjawab atas semua persepsi kita, semua yang kita yakini saat ini pihak mana yang kelak bekerja dengan sepenuh hati untuk kemajuan dan kebaikan kita semua, negara dan bangsa Indonesia. Pilihan yang ada sudah jelas, koalisi pendukung berikut dengan semua personilnya sudah ada dan nampak jelas yang bisa kita telusuri latar belakang dan sepak terjangnya selama ini. Jadi sebenarnya dengan semua yang sudah tersajikan itu kita sudah mulai bisa mempertimbangkan akan kemana pilihan kita. Dan kalau kita bermaksud ingin mempengaruhi orang yang sudah kekeuh  dengan keyakinannya untuk mengajak sependapat dengan pilihan kita, tentu hal yang sangat sulit -untuk tidak dikatakan mustahil- oleh karena setiap kita punya preferensi sendiri-sendiri tentang pilihan kit...