Postingan

Menampilkan postingan dengan label SecangkirKopiPahit

Para "Penyempal" (SecangkirKopiPahit~15)

Kelanjutan dari arbitrase itu akhirnya memisahkan sekelompok orang dalam jumlah yang cukup besar dari pasukan Kufah. Mereka-mereka inilah yang kemudiannya disebut sebagai para penyempal, Khawarij. Anasir-anasir yang mempunyai karakter keras, kaku dan merasa diri berada pada posisi yang paling benar itu, yang keberadaannya menyebar tidak hanya pada salah satu pihak saja, sebenarnya sudah terendus sejak awal. Bahkan sejak sebelum khalifah Utsman menjadi korban serangan sekelompok orang yang tidak puas dengan kepemimpinannya. Namun keadaan pasca serangan itu, insiden beruntun yang berlangsung dengan sedemikian cepatnya tersebut nyata-nyata sulit untuk meredamnya. Dalam riwayat disebutkan, ketika mengumumkan hasil musyawarah antara kedua belah pihak yang diwakili oleh Abu Musa al Asyari dan Amru bin Ash, terjadi kecurangan yang dilakukan oleh Amru ketika tiba gilirannya untuk membacakan keputusan. Kesepakatan awal yang hendak memilih pemimpin baru diluar kedua pemimpin yang sedang be...

Perang Shiffin, What Friends Are For (SecangkirKopiPahit~14)

Barangkali memang sudah kehendak zaman bahwa masa kekhalifahan rasyidah, khulafa-al-rasyidin, harus mengakhiri kiprahnya dalam mengatur urusan ummat dan percaturan politik Islam pada masa itu. Kekhalifahan yang dibentuk oleh para sahabat utama Nabi  dengan ijtihad-nya itu harus berganti dengan bentuk kekhalifahan baru hasil ijtihad dari sahabat Nabi yang lainnya pula. Sistim baru itu berupa dinasti kekerabatan dan pewarisan posisi khalifah kepada keluarga atau kaum kerabatnya. Awal mula dari keruntuhan khulafa-al-rasyidin itu adalah konflik yang berkepanjangan antara khalifah Ali bin Abi Thalib, kalifah terakhir dari rangkaian khulafa-al-rasyidin, dengan sahabat Muawwiyah bin Abu Sufyan yang saat itu menjabat sebagai gubernur Syam, yang kemudiannya dikenal sebagai pendiri dan khalifah pertama dinasti Bani Umayyah. Perselisihan panjang sekaitan dengan terbunuhnya khalifah ketiga dari rangkaian khulafa-al-rasyidin itu selain telah menghadirkan Perang Jamal yang telah berhasil d...

Konflik dan Terbunuhnya Khalifah-khalifah Terbaik (SecangkirKopiPahit~13)

Nampaknya musibah yang dialami generasi awal pemeluk Islam itu terjadi secara beruntun. Setelah peristiwa berdarah yang terjadi pada awal masa pemerintahan Abu Bakr Shiddiq, khalifah pertama dari khulafa-al-rasyidin, yaitu berupa penindakan tegas khalifah atas salah satu puak yang menolak membayar zakat, kaum muslimin harus kehilangan dua khalifah terbaiknya. Sahabat Umar bin Khattab, khalifah kedua dari khulafa-al-rasyidin yang terkenal kritis dan zuhud pada dunia itulah yang harus meregang nyawa atas serangan berdarah dari seorang Yahudi, Abu Lu'lu'ah. Lalu berikutnya adalah sahabat Utsman bin Affan yang berjuluk dzun nurrain karena menikahi dua puteri Nabi, khalifah ketiga dari khulafa-al-rasyidin yang mendapat gilirannya. Penyerangan yang berakibat pada mangkatnya sang khalifah itu dilakukan oleh para pemberontak dari kalangan kaum muslimin sendiri. Setelah peristiwa na'as itu, lagi-lagi kaum muslimin mengalami musibah lanjutan dengan terjadinya perpecahan kaum...

Sepetak Kamar Kegaduhan (SecangkirKopiPahit~12)

Di hari-hari yang semestinya penuh dengan kegembiraan dan suka cita ini, saya tidak mengerti kenapa yang terlintas dalam ingatan ini malahan kisah tangisannya Ibn Abbas?! Mungkin saja hari itu bagi Ibn Abbas adalah hari penuh kabut kegelapan yang akan menyelimuti ummat sepanjang waktu dan karenanya pula menjadi hari paling menyedihkan sepanjang hidupnya. Dengan isak tangis yang mengucurkan deraian air mata yang tak berkesudahan, Ibn Abbas keluar dari sepetak kamar yang tak terlalu besar itu.  "Sesungguhnya musibah yang paling besar adalah apa yang menghalangi Rasulullah untuk menulis kitab tersebut yaitu perselisihan dan kegaduhan mereka" (HR Bukhari) Kegaduhan yang terjadi di dalamnya, perselisihan dan pertengkaran dengan suara-suara keras dan meninggi yang tidak sepantasnya dilakukan di hadapan Nabi suci itu telah membuat sang pemiliknya tidak berkenan lalu mengusir biang kegaduhan itu pergi dari sisinya, mengusir keluar orang-orang yang ada di dalamnya. "Ket...

Ahl-al-Fatrah dan Kedua Orang Tua Nabi (SecangkirKopiPahit~11)

Sungguh dengan perkataan dan pendapatmu itu engkau seolah telah suguhkan kepada  baginda Nabi SAW, secangkir kopi yang teramat pahit yang tak layak minum bahkan buat budakmu sekalipun. Itukah ungkapan rasa cintamu kepada Nabi SAW yang engkau mengaku selalu merinduinya? Yang kelak engkau berharap pertolongan dengan syafaatnya? Masihkah engkau berani berharap? Masihkah engkau mendaku diri para pecintanya setelah engkau terlalu banyak berteori hanya untuk merendahkan nasab beliau? Setelah kekurang-ajaran dan ketidak adaban yang kelewat batas itu? Bagaimana mungkin engkau melupakan firman Allah tentang para penyeru dan pemberi peringatan yang selalu Allah kirim untuk tiap-tiap kaum/ummat? Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan.  Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan .  (QS Al-Fathir 35:24)  Orang-orang yang kafir berkata: “Mengapa tidak...

Kerancuan Fatwa Itu Musibah (SecangkirKopiPahit~10)

Ketika ulama atau yang diulamakan atau yang mempunyai otoritas membuat fatwa atau bahkan figur-figur yang lebih tinggi lagi sudah tergiur dengan duniawi, apapun itu bentuknya, yang lalu membuatnya sanggup berselingkuh dengan para penguasa lalim, maka apa lagi yang bisa kita harapkan dari mereka? Ketika keberpihakan itu sudah sedemikian berkelindannya, bagaimana kita bisa berharap sifat netralitas dan keadilan dari mereka akan mewujud dalam pendapat dan fatwa yang akan mereka buat? Kiranya hanyalah pembenaran pada apa yang penguasa lakukan dan keadaan seperti apa yang penguasa inginkan akan mereka lakukan, bahkan jika perlu harus memelintir teks-teks suci-pun akan sanggup mereka lakukan. Kalau sudah demikian halnya maka kerancuan dalam pendapat dan fatwa, bercampurnya antara fatwa yang benar dengan yang  menyelisihi, seiring berjalannya waktu yang panjang bersama dengan kekuasaan itu, akhirnya menjadi begitu sulit untuk membedakannya bagi yang hidup jauh dari masa-masa itu. Dan ...

Rebo Wekasan (SecangkirKopiPahit~9)

"Apa yang bisa diceritakan lagi tentang kisah Rebo Wekasan itu, kecuali hal yang buruk saja? Lalu untuk apa hal yang demikian itu ingin diketahui? Sementara kamu dan kita semua sudah bisa menerima dan menikmati keadaan yang ada hingga perjalanan waktu sudah sejauh ini."  Atas jawabannya itu mataku terpaksa menatap ke kejauhan yang tak berbatas. Menerawang menembusi semua yang ada di depannya. Tembok-tembok tebal dari bangunan dan gedung yang tinggi, pepohonan berpokok besar dan menjulang, bahkan gunung-gunung yang kokoh berdiri di depan sana. Tatapan mata itu lalu melampaui lautan dan samudera nan luas hingga ke hamparan tanah tandus berpasir yang ditumbuhi perdu-perdu yang kadang hijau dan terkadang pula menguning kecoklatan. Anganku ikut menjelajah mencari penjelasan atas jawaban tentang rebo wekasan yang menurutku masih mengandung misteri. Hal buruk? Bisa menerima dan menikmati?  Hal buruk apa, bisa menerima dan menikmati apa serta bagaimana? Sungguh sumir!. Namun a...

Sang Pengobar Perang (SecangkirKopiPahit~8)

Gambar
Saat gelapnya malam dirasanya telah sempurna melenyapkan semua bayang-bayang, tiga sosok lelaki bertutup kepala dan berkain panjang dengan warna senada dengan pekatnya malam itu bergerak meninggalkan rumahnya masing-masing. Mereka mengarah pada tempat yang sama, menuju ke kediaman seorang lelaki yang tengah menggemparkan segenap warga kota di kawasan yang berpadang pasir itu. Mereka bertiga bukanlah orang biasa di kota itu melainkan pribadi-pribadi yang berpengaruh kuat dan berkedudukan di mata masyarakat luas. Bahkan salah seorang darinya, di kemudian hari dikenal sebagai pengobar nomor wahid atas permusuhan dan penolakan dakwah lelaki yang kini akan didatanginya. Dalam kepergiannya malam itu, di antara mereka tidak pernah ada janji sepakat yang satu dengan yang lainnya dalam hal penetapan hari dan waktunya, pun mereka juga tidak tinggal pada tempat-tempat yang saling berdekatan. Namun mereka datang (dengan sembunyi-sembunyi dan mengendap-endap) ke tempat yang ditujunya itu dala...

Sang Teror Dari Khandaq (SecangkirKopiPahit~7)

Kepulan uap yang keluar dari secangkir kopi pahitku berangsur menipis pertanda derajad kepanasannya sudah bisa untuk mulai dicecap lidah. Meski begitu tetap saja tidak bisa  glêkkk  saat meminumnya, kalau tidak, apa pingin lidah berubah warna? Tetap saja hanya dengan  seruputan  kecil yang bersuarakan unik yang sulit dituliskan itulah cara yang pas untuk menikmatinya. Dua kali seruputan yang telah aku buat mengalirkan rasa pahit namun ada energi semangat yang menggugah. Sesaat setelah cangkir kopi pahit itu aku taruh, terdengar gumamannya yang bernada tanya... "Pernahkah kau dengar cerita tentang seorang yang digelari The Greatest Warrior of Arabia, seorang petarung hebat yang dinilai setara dengan seribu tentara? Yang kehadirannya bisa berarti maut bagi para seterunya?" Sebelum aku sempat menjawabnya dia meneruskan gumamannya... "Dialah 'Amr Ibn Abd Wudd. Sang teror yang kembali hadir di peperangan antara kaum muslimin yang dipimpin oleh Nabi Alloh...

UHUD Dan "Bagai Kambing Gunung Yang Berloncatan" (SecangkirKopiPahit~6)

Sejenak kopi itu menghentikan kata-katanya dan mengamatiku dengan tatapan  welas asih- nya. Ketika menyadari aku hanya terdiam dan sedang berusaha memahami semuanya itu, dia meneruskan pesannya... "Tentang kepahitan yang aku maksudkan sebenarnya sangat banyak bisa dijumpai di belantara kehidupan kita ini. Namun ada kepahitan yang teramat sangat yang andai saja kau diberi kesempatan untuk mencecapnya mungkin lidahmu akan membeku karena kadar pahitnya".  Dia alihkan pandangannya yang nampak gundah itu, jauh...jauh menerobos dan menembusi segala penghalang. Tarikan pelan nafasnya seakan ikut membantu membuka kembali lembaran-lembaran masa silam. Membantu mengingat peristiwa-peristiwa yang penuh sedu sedan. "Masihkah kau ingat tentang Uhud? Benar...perang besar yang dilakukan Nabi SAW dan para sahabatnya di medan tempur Uhud yang berbukit berlembah itu. Ingatkah kau ada kepahitan yang teramat sangat di sana?" Tanyanya sembari mengalihkan pandangannya yang kini men...

Kopi Tak Pernah Berbohong (SecangkirKopiPahit~5)

Tiap kali hendak aku tambahkan gula barang sesendok kecilpun Kopi itu serta merta menahanku untuk melakukannya Pesannya begitu kuat meski lembut dibisikkannya "Segala pemanis yang kau tambahkan itu hanya akan menipu dan mengecohmu.  Mengaburkan makna dan maksud dari kepahitannya. Menutupi pesan yang hendak disampaikan.  Ia akan menutup sebagiannya  bahkan mungkin keseluruhannya.  Melenakan hingga terlupakan esensinya. R esapi dan nikmati pahitnya dan kau akan mengerti". Fakta bahwa dalam perjalanan sejarahnya, Islam juga tidak terlepas dari awan kelabu yang bergelayut dan mengiringinya itu tidak serta merta boleh untuk dinihilkan pun bahkan hanya sekedar dilupakan. Lalu memilihkan hanya pada kisah-kisah indah tentang kejayaan dan harmonisnya pergaulan di dalamnya. Karena sesungguhnya dalam kepahitan sejarah itu ada hikmah yang mesti dipetik. Jikalah tetap saja demikian, seperti halnya kopi yang ditambahi gula itu, reduksi pada manfaat kafein yang hendak diam...

"Masih Sebatas Karena..." (SecangkirKopiPahit~4)

Malam ini kawanku absen ngga berkunjung ke rumah dan secangkir kopi pahitku pun sudah tinggal separohnya. Sudah dingin...sedingin hembusan angin yang berasal dari daratan utara, arah Persia? Sepertinya begitu. (Eits jangan nyebutin nama Persia itu...khan itu negeriii syingah...) Masih kuingat kata-katanya yang dia lontarkan beberapa malam yang lalu... "Apa yang melekat sampai saat ini pada diri kita adalah belenggu pamrih, belenggu ketidak ikhlasan. Beribadahnya kita itu masih sebatas karena...belum lepas, belum los, belum ikhlas. Tahajud yang dilakukan biar dapat kerjaan lebih baik. Dhuha yang ditunaikan juga agar rejeki lancar. Sedekah yang disalurkan untuk memancing rejeki lebih gedhe lagi. Puasa sunnah...nasibnya sama saja". Ah aku jadi ingat sepotong kalimat dari Cak Nun tentang logika dagang...memang ngga persis begini juga sih... "Ben diwenehi rejeki sing akeh, lancar...ben di...ben di...emange kowe ki dagang popiye? mbok wes ben terserah Gusti Alloh wae...

Khawatir Dan Takut! (SecangkirKopiPahit~3)

Secangkir kopi pahit yang kunikmati tadi sudah tandas...tinggal menyisakan ampas yang teronggok membeku di dasar cangkir . Ia sepertinya telah ter-ekstraksi dengan sempurna. Ah...kata sempurna itu...apakah ada yang sempurna sebenarnya selain Yang Maha Rahim itu? Ketika secangkir kopi pahit kedua sedang ku siapkan mengikuti saran seorang teman dari Garut...Kang Odjhat namanya...seorang yang telah bergelut cukup lama dengan per-kopian itu, katanya "Menyeduh kopi itu jangan dengan air yang terlalu panas suhunya karena akan menguapkan citarasa nikmat kopinya, diamkan beberapa saat dulu baru Mas tuang. Ngaduknya tiru thawaf itu lho Mas". Dan secangkir kopi pahit yang sarat makna ini siap dinikmati... "Cak, pernahkah sampeyan merasakan takut? Takut kehilangan pekerjaan, takut jatuh miskin, kekurangan harta benda dan lain-lain hal yang bersifat materi?". S ekonyong-konyong pertanyaan itu dilontarkan kawanku yang sedari tadi sedang asik menekuri mainannya itu. ...

Tuliskan Saja Kawan...(SecangkirKopiPahit~2)

Sembari menikmati sebatang kretek filter dan beberapa kali seruputan kopi pahit ini aku bilang ke kawan kongkow-ku malam ini... "Sebaiknya coba ditulis saja apa yang berkecamuk di kapala sampeyan itu, buah pikiran, renungan dan kontemplasinya itu". Kataku mencoba membujuknya. Lalu kuteruskan dengan beberapa kalimat penekanan dan semangat untuk kadang perlu juga berbagi... " Saya percaya akan ada manfaat yang bisa dipetik minimal buat kita. Apa yang telah kita tulis itu biar jadi semacam cambuk pengingat terus bagi kita, kamu kan sudah menulisnya toh jalanin dong, seperti kata sampeyan itu bahwa setiap pernyataan dan pengakuan butuh bukti nyata". "Nggak bisa! Itu sesuatu yang sulit bagi saya. Ketika menuliskan itu potensial muncul rasa takabur, pamer pengetahuan, merasa ini lho aku yang mempunyai pemahaman yang bagus. Nah itu juga...pembuktian itu berat, tuntutan yang tidak main-main". Katanya menimpali. Dan obrolan pun terus berlanjut dengan saling ...

Secangkir Kopi Pahit

Kopi tanpa gula yang saya seduh malam ini terasa memberikan sensasi rasa berbeda. Pahit memang. Tetapi di setiap akhir kepahitan itu ada sejenis rasa yang sulit dideskripsikan. Sulit menemukan kata yang bisa mewakilinya. Ketika saya paksakan menamainya rasa itu dengan manis yang unik  misalnya, belum tentu juga orang lain bisa sepakat. Setiap orang pasti berbeda. Karena sifatnya yang sangat personal. Apa yang dirasakan lidah itu mempunyai referensi sendiri pada masing-masing pengalamannya. Saya berkeyakinan tidak semua orang mempunyai penafsiran yang sama meski sama-sama sedang menyantap semangkuk soto misalnya. Jika sepakat bilang enakpun tentu enak menurut tafsirnya masing-masing. Kopi pahit yang saya cecap dan nikmati setiap kali melewati bibir ini, menemani obrolan santai dengan seorang kawan malam ini yang bertandang ke rumah. Obrolan yang ngalor-ngidul itu tentu saja tak pernah bertema, seperti malam-malam yang sudah-sudah itu juga, tetapi bisa saja mendadak berbelok me...