Postingan

"Dungu"-nya RG Dan Pentingkah Tontonan Talk Show

"Apa sih menariknya menonton sebuah Talk Show di Televisi?" Varian jawaban atas pertanyaan di atas tentu bisa beberapa dan beragam pandangan. Dari yang bersifat candaan maupun yang serius. Menikmati tontonan Talk Show itu, buat saya adalah saat menantikan munculnya istilah baru dan kosa kata yang terbarukan pemaknaannya. Dari situ seringkali muncul peristilahan yang menggelitik dan mengundang senyum, kadang malah bisa bikin ketawa ngakak. Atau bahkan ada beberapa istilah yang memancing perbedaan pendapat yang panas, tidak saja bagi para nara sumber yang diundang, melainkan meluas dan berlanjut di masyarakat melalui interaksi di media sosial. Perhatikan saja bagaimana istilah IQ 200 sekolam butek yang dihuni oleh para kecebong dungu yang fiksi onal itu telah menjelma menjadi topik perbincangan publik yang begitu sangat populernya. Sebuah olok-olok yang disematkan pada para pendukung Ahok-Jokowi ini sangat digemari oleh para hater-nya. Sebuah contoh saja, "Dun...

Ini Dadaku Mana Dadamu?!

Gambar
Konon slogan ini diucapkan oleh Bung Karno sebagai refleksi dari kedaulatan Indonesia. Saya menangkapnya, slogan itu untuk menyatakan bahwa kita, bangsa Indonesia selalu siap, berani dan bertekad kuat dengan penuh kepercayaan diri untuk berhadapan/bersaing dengan bangsa dan negara lain. Bangsa Indonesia mempunyai identitas diri dan kemampuan untuk menempatkan diri dalam percaturan dunia. Kita setara dan pantang untuk direndahkan oleh bangsa dan negara lain. "Ini Dadaku Mana Dadamu!?" Berita dan foto Pak Prabowo bertelanjang dada pasca deklarasi pen-capresannya marak di media massa maupun media sosial. Atas peristiwa ini, netizen baik yang pro maupun yang kontra menanggapinya secara beragam. Seperti biasanya, yang pro dengan puji-pujian, misalnya tentang kegagahan, kejantanan, ketegasan dan lain sebagainya yang khas military yang ada pada diri mantan Danjen Kopassus itu. Mereka juga bilang bahwa ketelanjangan itu sebagai respon spontan dari The Leader dalam menyambut antu...

Dikotomi Partai? Hanya Orang Baik Saja Yang Dibutuhkan!

Ketika awal bermunculan partai-partai politik baru berbasiskan Islam itu serasa ada harapan bahwa perubahan yang baik dalam perpolitikan nasional akan segera datang menjelang. Saya mempunyai ekspektasi yang tinggi pada partai-partai itu untuk bekerja keras menemukan dan membentuk kader-kader muda yang militan, bersih, spiritualitasnya tinggi, idealis dan ikhlas berjuang demi kebaikan bangsa dan negaranya di atas kepentingan golongan atau partainya. Berharap banyak bahwa kader partai harapan ini menjadi role model bagi kader partai lain. Apakah harapan yang demikian itu terlalu muluk, terlalu fiksional? Jawaban atas pertanyaan itu terberikan setelah beberapa waktu berjalan, setelah mereka berinteraksi dalam kancah politik nasional, setelah mereka bertempur dengan dinamika yang ada. Barangkali karena saya tidak pernah tahu cara berhitung orang yang berpolitik praktis, maka ketika ada deal-deal politik diantara mereka -yang menurut harapan saya tidak terjadi-, suka terkaget-kaget....

Puisi-puisi Bergema

Gambar
Dunia "sastra" kita mendadak semarak. Banyak yang tergerak hatinya untuk mengungkapkan apa yang ada dalam benak dan pikirannya dengan menuliskan bait-bait puisi dan syair. Tentu ini suatu hal yang menggembirakan toh?. Betapa tidak, dengan kesemarakan ini seperti ada harapan akan bangkit dan munculnya penyair-penyair baru yang jempolan. Dan bukankah tradisi menulis indah itu perlu terus dilestarikan? Dalam kesemarakan ini, meski buah dari respon adanya puisi yang dinilai "kontroversial" dari Ibu Sukma hingga sebagian dari puisi-puisi yang dikreasi itu ada ungkapan kemarahan disana, tetap tidak jadi mengapa. Biar mengalir saja. Mudah-mudahan gairah (berpuisi dan bersyair) ini tidak berhenti sampai disini saja, hanya sebuah respon. Namun berkelanjutan sehingga berproses terus menjadi karya-karya yang indah terlebih lagi jika sanggup menginspirasi dan menggelorakan semangat juang untuk memperbaiki keadaan. Semaraknya berpuisi ini mestilah dibarengi dengan kecermata...

Menang Tanpo Ngasorake

Pepatah atau semboyan lama berbahasa Jawa ini nampaknya tidak cukup jika hanya untuk di-inget-inget aja. Perlu banget  diadopsi menjadi sikap, terutama oleh para politisi yang sedang ingin memperoleh pengakuan dan legitimasi dari khalayak atas potensi dirinya. Menang tanpo ngasorake . Menang atau unggul atas seseorang tanpa harus merendahkannya. Untuk memantapkan anggapan bahwa dirinya pinter, intelek, terpelajar dan keunggulan lain yang dimilikinya tanpa harus menunjuk orang lain, lawan politiknya atau yang Ia posisikan sebagai lawan politiknya itu bodoh, yang belakangan orang lebih suka memakai kata GOBLOK. Barangkali ada yang terlupakan karena terlena oleh meriahnya tepuk tangan ketika memakai cara dan kata tak elok itu, atau malah karena keinginan dan ambisi yang kelewat besar alias kebelet beud , maka kesantunan itu Ia kesampingkan. Barangkali Ia lupa juga bahwa yang terlibat dalam keseluruhan proses kontestasi itu tidak hanya yang bertepuk tangan meriah saja, tetapi b...

Belajar Dari Sekeping Koin

Ini bukanlah ngebahas tentang filosofi dari sekeping koin, bukan. Karena bahasan filsafat itu bagiku -setelah mendengar ohm Rocky Gerung bicara berpanjang-panjang dengan kalimat-kalimat susah cerna, diksi yang ngawang di acara talk show itu- menjadi terlalu ruwet. Dan karenanya biarkan urusan yang beginian menjadi ajang dan porsi bagi kalangan akademisi saja. Belajar dari sekeping koin ini hanya untuk menegaskan adanya realitas dua sisi yang selalu bersama, yang telah menjadi kodratnya si koin. Kita tidak bisa hanya mau menerima salah satu sisinya yang kita suka, lantas hendak menafikan sisi lainnya.  Nah dalam praktikal sehari-hari, bukankah kehidupan kita juga selalu diwarnai oleh dua hal yang saling bertolak belakang?. Tentang apa sajanya, tanpa harus disebutkan di sini, tentu kita telah cukup familiar, ya khan?. Sebenarnya apa yang ingin disampaikan dalam topik ini adalah tentang yang sederhana saja, bagaimana orang memberikan tanggapannya pada suatu hal yang ternyata t...

Ideologis - Biologis, Itu Hal Yang Berbeda!

Ketika seseorang membuat karya tulis, baik yang pendek berupa rangkaian beberapa kalimat saja maupun yang sangat panjang berupa buku, memoar, autobiography, novel dan lain sebagainya, sudah pasti ada maksudnya. Bisa karena motif ekonomi, ya karena pekerjaannya sebagai penulis dan dibayar untuk itu semua. Seperti para kuli-tinta, novelis, penulis naskah dan lain-lain profesi kepenulisan. Bisa bentuk -yang saya kira idealis- yaitu aktualisasi diri, bukankah ada ungkapan yang indah tentang ini? "Karena Mencaci-cerca Maka Aku Ada" eh maafff salah... "Karena Menulis Maka Aku Ada"  sebagaimana yang dilakukan orang yang suka berbagi hal-hal bermanfaat tanpa bermotifkan uang. Bisa bentuk ungkapan uneg-uneg yang harus dikeluarkan dari dalam pikiran agar bebannya berkurang, baik berupa keluh kesah, sedu-sedan atau bahkan karena kegembiraan yang meluap. Bisa berupa pemberontakan karena sistim tata nilai yang tidak disukai dan tidak sejalan dengan apa yang dipikirkan d...

Salahkah Orang Memilih Agnostik?

Tentu sudah melalui banyak pertimbangan ketika orang mengambil sebuah keputusan, karena setiap keputusan yang diambil itu akan membawa konsekuensi logisnya masing-masing. Apalagi jika keputusan itu menyangkut hal yang sangat krusial dan penting, Agama misalnya. Rasa-rasanya masih segar dalam ingatan kita tentang cerita orang yang berpindah agama, dari satu agama ke agama yang lainnya. Atau malah keluar sama sekali dari suatu agama lalu memilih tidak menganut agama manapun. Mereka lebih memilih sebagai agnostik. Tentang yang demikian ini, dari pada mencibir dan menyalahkannya saya lebih memilih untuk tetap menghormati atas pilihannya itu. Karena aku sangat yakin mereka pasti punya alasan kuat untuk itu semua. Dan jikalaupun harus mengungkapkan sebuah perasaan terhadap sikap mereka tersebut, saya akan cukupkan dengan prihatin atasnya. "Pasalnya?" Karena barangkali saja sepanjang perjalanan hidupnya yang telah mereka lakoni itu (belum) tidak didapatinya pada para penganu...

Efek Jokowi

Edan-edanan? Barangkali saja, saat-saat seperti sekarang ini kondisinya sudah bisa disebut demikian. Bayangkan saja. Seorang pemimpin, presiden yang terpilih secara konstitusional dihina, diejek, bisa sedemikian rupa tidak dihargainya oleh orang-orang yang semestinya bisa, sangat bisa bahkan, untuk meski sedikit memberikan rasa hormat padanya. Memang tidak semua rakyat berbuat demikian, tetapi menjadi ganjil juga karena pada saat yang sama memuja-puja mantan calon pemimpin atau malahan pemimpin dari negara lain dengan sedemikian rupa, padahal kalau saja mau mencermati dan lebih open minded banyak hal miring yang telah dilakukan oleh sang pujaan. "Apa itu?" "Aah jangan pura-pura ngga tahu gitu lah". Dan keparahannya itu semakin menjadi, lebih ketara lagi ketika asumsi-asumsi, khayalan, halusinasi ikut andil pula dalam hal puja-puja itu. "Andai saja yang terpilih bukan si pe-meubel ini...tentu tidak akan seperti saat ini keadaannya. Korupsi, penegakan h...

Kami Ummat Terbaik!

Meski aku tahu dengan kepastian yang tak tersangkalkanpun, kata-kata nyaringku barangkali hanya akan terkurung oleh tembok-tembok tegap kokoh nan tebal. Tembok keangkuhan milik orang-orang yang telah mengira dirinya sebagai "pemutus perkara". Tembok jumawa para pelahap ratus, atau mungkin ribu buku dan kitab. Atau jikapun tidak, teriakan kerasku itu barangkali hanya akan terhisap  pusaran angin yang lalu meniupkannya, dan hilang entah ke ujung yang mana. Atau suara yang aku kira nyaring itu hanyalah berupa bisikan sunyi di riuh-rendah dan hiruk-pikuknya semesta yang menolak dan menyangkalinya?! Namun suara-suara itu, bagaimanapun wujudnya nanti, tak peduli keras ataupun lemah, harus tetap diteriakkan sekuat-kuatnya. Semampu kerja kombinasi paru-paru dan otot perut yang bahu-membahu menyemburkan udara dan menggesek pita suara itu. Karena dengan suara nyaring itu kebenaran dan keadilan akan terus terperjuangkan. Hingga tak perlu lagi menghitung waktu, dan berpikir kapan ...

Si Duo dahsyat!

Ini bukan tentang dua sosok fenomenal di parlemen itu lho! Tapi tentang dua jempol setia yang kita punya. Jika sebelum-sebelumnya kita kasih jempol bahkan Two thumbs up sekaligus sebagai ungkapan pujian untuk 'hal-hal yang bagus', atau sebaliknya, two thumbs down untuk 'hal-hal buruk'. Tapi perkembangan jaman telah menambahkan fungsinya menjadi lebih dahsyat. "Dahsyat?...Ah lebay nih!" Jempol-jempol kita itu ternyata bisa sangat merusak. Ketika godaan tuts-tuts virtual dari smartphone itu menyeret keduanya untuk menulis hal-hal buruk caci-maki, sumpah-serapah, hoax, fitnah yang lalu diikuti si jempol kanan beraksi di tombol share. Semuanya sudah terlepas dari kendali kita. Kita tidak pernah akan tahu kemana saja hal buruk itu akan menjelajah dan seberapa besar dampaknya. Bisa merusak diri sendiri karena bisa berurusan dengan hukum, sebagai bentuk pelanggaran undang-undang yang berlaku. Atau lebih parah menjadi rangkaian penyebab konflik horizontal yan...

"Rakyat Sudah Cerdas!!!"

Klaim seperti subyek di atas itu seringkali diper-tonton-dengar-kan melalui tayangan televisi oleh para nara sumber ketika diundang pada acara Talk Show. Sering ditulis orang pada media online, sering pula bertebaran di media sosial baik dalam status atau komen dari status. Pertanyaannya: "Apakah benar kita ini sudah sedemikian cerdas dalam memahami situasi yang telah dan tengah terjadi ini?".  "Apakah benar dan yakin pula bahwa kita sudah memperoleh informasi faktual, informasi yang bener-bener sesuai dengan fakta yang terjadi sesungguhnya?" Pertanyaan demikian itu atau pertanyaan lain yang bersifat kontemplatif yang lebih dulu melongok pada diri sendiri adalah hal penting yang harus dilakukan, karena dengan demikian kita sudah berhati-hati dalam mengambil sikap dan tindakan lanjutannya terkait dengan setiap informasi. Pertanyaan-pertanyaan itu akan memaksa kita untuk mencari informasi pembanding, cover both sides, bahkan jika memungkinkan mengkonfirmasiny...

Mari Bercerita Saja!

Dari Nguping Aku Mengenal Mereka, Sebuah Episode Awal Bepergian sendiri tanpa membawa serta keluarga itu ada semacam kebebasan tersendiri. Ga ada beban pikiran yang berlebih. Ini bukan tentang ngga mau repotnya, tetapi biasanya menjadi tidak sederhana jika dalam bepergiannya itu harus ada transit-transit yang mesti dilakukan. Apalagi jika transitnya berjam-jam yang begitu menjemukan. Kasian aja melihat mereka seperti keleleran gitu. Ga tega..sumpeh deh. Sementara mau nyariin penginapan, tanggung, sayang di waktu eh duitnya (dasarnya aja pelit!) Nah kalau sendiri itu, mau tiduran dimana aja ga jadi masalah. Mau di kursi peron, mau di bangku terminal, mau ngleset di karpet ruang tunggu bandara atau bahkan nyempil di pojokan mushola juga ga jadi masalah. Dibikin sesimpel-simpelnya. Hari itu ngga seperti biasanya. Jika sebelum-sebelumnya waktu transit paling pendek yang ditawarkan di web maskapai Qatar Airways selalu menjadi pilihan, maka hari itu transit panjang sekitar 6 jam-an di ...

Trans-literasi, Problem Yang Tak Kunjung Usai

"Bahwa segala sesuatu itu tergantung pada apa yang diniatkannya. Baik yang diucap-lafalkan maupun yang tersembunyi di dalam hati. Dan (pengetahuan) Allah sekali-kali tidak pernah tersembunyi dari segala isi hati. Allah maha melihat dan mengetahui baik yang nampak maupun yang tersembunyi." Sebuah pengingat yang pernah disampaikan oleh salah satu guru agama saat di bangku sekolah dulu itu, kembali terngiang saat ini dan rasanya masih (bisa) relevan untuk menanggapi ketika masih banyak diantara kawan di medsos yang masih saja mempermasalahkan atau saling koreksi terhadap penulisan kata atau kalimat dari bahasa asing (dalam hal ini Arab). Problem sebenarnya adalah faktor trans-literasi dari bahasa asal ke bahasa yang dipakai sehari-hari oleh penutur itu. Serta pilihan huruf sebagai simbol yang mewakili bunyi atau huruf asalnya yang berbeda untuk setiap bangsa/negara. Ketika kita menuliskan kata atau kalimat bahasa Arab ke bahasa Indonesia maka sudah semestinya jika kita menu...

ISENG, MALES dan KAKILIMA

Tabiat orang beli barang itu terkadang suka agak-agak aneh. Rencana yang mau dibeli apa...eh yang didapatnya lain. Mendadak berubah rencana! Atau terkadang malah ga ada rencana beli apapun...eh keluar duit juga dari dompet. Mendadak semacam keisengannya yang muncul. Dan tabiat yang kek gituan aku masih sering melakukannya! "Dasar aja kamunya ga pernah punya rencana matang!" "Biarin...itu juga mungkin bagian dari rejekinya yang jualan toh...apalagi yang jualan itu pemodal kecil di emperan toko, kakilima yang ga kuat bayar sewa kios yang mehong itu!." Tangkisku atas sindiran yang sebenernya bagus sih. Dan biar lebih mantab ngelesnya maka alasan bagi-bagi rejeki dan pedagang kecil kakilima musti dibawa-bawa. Hahaha jadi keinget banget ama sebuah kata...Keberpihakan. Tentang keisengan itu, pernah suatu ketika di siang hari bolong dan panas yang cukup menyengat, berdua dengan ibunya anak-anak jalan di sekitaran perempatan Royal Serang. Ketika pindah dari satu to...