Postingan

Menangis, Sebuah Katarsis

Banyak cara yang dilakukan orang untuk melepas beban yang ditanggungnya, himpitan permasalahan hidup baik yang bersifat material maupun psikologis. Dengan cara yang bersifat positif hingga yang negatif, dari cara rumit hingga yang terbilang simpel saja, misal curhat pada seorang sahabat yang dipercaya atau bahkan cukup dengan menangis saja. Menangis? Apa itu ndak cengeng? Tidak! Bukanlah suatu hal yang cengeng jika kita memerlukan diri untuk melakukannya, karena ianya bisa menjadi suatu cara untuk keluar, suatu cara untuk pelepasan beban dan ketegangan. Sebagai sebuah  katarsis  kita untuk menjadi lebih baik, menjadi lebih kuat untuk terus berhadapan dengan segala permasalahan. Menangis di malam-malam sunyi ketika bersendirian, merajuk, bermanja, berkeluh kesah kepada Sang Maha Pengasih, senyatanya memberikan kekuatan laksana amunisi yang kian bertambah banyak sebagai persiapan perang dalam mengarungi hidup. Karena kita telah mengadu kepada Sang Pemberi Solu...

JASMERAH!!!

"Anda ini terlalu lama tertidur bung! Negeri kita tercinta ini sudah berkali-kali diuji oleh oknum-oknum yang ingin mencabik-cabiknya. Anda mesti ingat itu! Bukan saja ekstrimis kiri, bahkan yang berada di kanan pun tidak kalah bernafsunya dari ekstrimis kiri itu. Kalaulah Anda tidak tidur atau tertidur selama ini, janganlah anda mendadak menjadi buta seperti ini" Ungkapan kesal semacam itu atau bahkan yang lebih keras dan kasar lagi sangat bisa dimaklumi. Kegeraman yang membuat pepat dada itu harus tersalurkan. Itu sudah semacam katarsis tersendiri meski belum cukup. Kepepatan oleh karena ulah orang yang seolah lupa pada luka sejarah yang menganga, yang meninggalkan bekas hingga sekarang ini. Masalah yang belum juga tuntas terselesaikan hingga hari inipun sudah hendak diulanginya lagi?. Jasmerah!. Jangan sekali-kali melupakan sejarah!. Ini yang harus terus diteriakkan dibarengi dengan penyadaran akan kebangsaan kita, hingga kuping-kuping itu mendengar lalu mener...

BUKU, Pengetahuan dan Represi

Kalau mendengar orang berbicara tentang buku pasti tergambar di benak tentang kegiatan membaca dan menulis. Bentuk kegiatan aktif menyerap dan menuang ide-ide dalam ranah ilmu pengetahuan dan karya cipta. Membaca itu identik dengan pengetahuan. Dengan membaca, banyak informasi yang bisa kita serap, apapun jenis informasinya itu. Tentang baik-buruk dan kemanfaatanya kembali kepada kita sebagai subjek. Tugas untuk cermat dalam memilah, memilih dan menyaring mutlak berada di tangan kita sebagai pembacanya. Menulis itu identik dengan mem-visualkan dan menuang ide ide, gagasan, olah pikir yang ada di kepala. Mewujud berupa karya cipta dalam berbagai bentuk sesuai bidang keahliannya. Sastra dan seni, sain, filsafat, agama dan lain sebagainya yang takkan cukup ruang ini untuk menampung semuanya. Kelewat banyak. Kata orang bijak tulisan itu abadi. Mengutip kata kata dari Pram...iya si Pramoedya Ananta Toer ituh...orang kiri ya dia? Ah apa pedulinya?!. Bukankah pikiran-pikiran cem...

BANARAN PONOROGO BERDUKA

Gambar
Yang aku kenal yang namanya Banaran itu area perkebunan di bilangan Bawen, sebelum pintu Tol ke arah Semarang kalau dari arah selatan. Aku mengenal Banaran yang ini lantaran suka lewat sana dan seduhan kopi dari Kampoeng Kopi Banaran yang nikmat dan ngangeni. Kopi yang dipetik dari perkebunan PTPN IX itu, yang juga sebuah kawasan Agro Wisata. Dan...kini aku baru tahu kalau kota asalku juga mempunyai daerah bernama Banaran. Sungguh wawasan ke-ponorogo-an yang kelewat rendah. Bahkan tahunya pun tersebab bencana alam. Banaran yang berada di wilayah kecamatan Pulung di tlatah Ponorogo timur yang berbukit itu kini sedang berduka. Bencana alam berupa tanah longsor telah melanda, menimbun rumah dan penghuninya. Puluhan orang sedang dicari keberadaannya. Digali dari longsoran tanah dan puing rumah. Semoga ketabahan, kesabaran, keikhlasan senantiasa tercurahkan dari Yang Maha Rahman dan Rahim. Teriring doa buat saudara-saudara di sana. Terimakasih buat rekan di WA group ya...

Ahad dan "Padi" Ceria

"Siapa mula-mula yang menggeser ini, kekuatan apa yang hendak menjauhkan ummat dari agama, dari yang bersifat religius Islam menjadi non Islam?." Begitu kira-kira luapan kesalnya yang kemudian menyerukan untuk membiasakan menggunakan nama Ahad untuk menggantikan Minggu, yang lebih bernuansa kristiani itu. Tentu saja sepakat, karena Ahad yang berarti satu atau hari kesatu dalam konteks hitungan hari, akan sesuai dengan nama hari berikutnya yang Senin. Bukankah Senin itu transliterasi Isnain dari bahasa aslinya?. Juga Selasa yang dari Tsalaasa, Rabu dari Arba'a?. Dan seterusnya, kecuali Jumat sebagai hari yang spesial. Karena, Ahad juga mengingatkan tentang ke-Esaan Tuhan Allah SWT, yang disebut juga dalam Pancasila sila pertama. Karena, Ahad pun mengingatkan kisah hebat sahabat Bilal bin Rabah yang tetap menyuarakan  "Ahad..Ahad..Ahad"  meski sedang dilanda siksaan yang pedih, ditindih batu di teriknya gurun pasir kala itu. Hal yang lain, untuk ik...

Bolo Dupak...Apakah Sebutan ini Untuk Kita Juga?

Paraga  yang biasa disebut orang demikian itu biasanya ada di pertunjukan seni tradisional, seni Kethoprak dan mungkin juga seni Ludruk. Dinamakan  Bolo dupak  (istilah ini keluar bukan dari insan seni, lebih oleh para penontonnya) ya karena awalnya, dalam pertunjukan seni itu mereka sering dijadikan obyek penderita dupak-dupakan alias tendang-tendangan atau pukul-pukulan yang dimaksudkannya untuk bumbu. Dalam sebuah tontonan atau pentas mereka adalah figur-figur yang tak perlu bernama dalam rangkaian cerita. Meski begitu kehadirannya bisa menyemarakkan pentas. Bayangkan saja jika tidak menyertakan mereka dalam adegan laga antar prajurit misalnya, yang biasanya mengawali aksi perang tanding aktor utamanya. Lalu cuma digantikan dengan narasi "dalang" saja, tentu kurang  sreg,  ga asik . Iya...betul saudara,  bolo dupak  itu memang nama lain dari figuran dalam dunia perfilman atau sinetron. Dan bahkan perkembangan saat ini ada yang namanya p...

Terbawa oleh Hujan...

Rintiknya sore ini membawa kabar Membawa serta pesan-pesan Tersembunyi... Tentang hawa sejuk yang mengiringi Tentang bau harum tanah yang tertimpa rintikannya itu Tentang kesuburan tanah-tanah yang menyerapnya lalu menumbuhkan tetanaman Masih selalu sama sedari dulu Dari tahun ke tahun, waktu ke waktu Bahwa aku selalu menyukainya Bahkan telah begitu jatuh dan mencintai aroma itu Aroma tanah basah yang tak pernah sanggup aku ungkapkan lewat kata Meski ianya telah terpateri...termemori Lekat... Bahwa akupun juga tidak mampu menggambarkan rasa sejuknya itu Meski telah mengakrabinya sekian lama Atau tentang kesuburan tanah yang hanya bisa dimengerti tersebab tetanaman merebak tumbuh Dan rintik hujan sore inipun telah mengingatkan kembali Tentang sesuatu yang sangat dekat Bahkan menyatu setiap waktu Yang ternyata tak ada kuasaku untuk menjelaskannya Tentang Nyawa... Tentang Jiwa... Tentang Akal pikiran... Seperti apa wujudnya? Dimana...

Kopi lagi dan lagi

Beberapa hari ini terus-terusan mencoba kopi-kopi yang ditemui...Arabica Mandailing, Arabica Palembang, Arabica Garut dan Robusta Lampung. Baru beberapa itu saja yang sudah dicecap lidah...sementara wilayah tumbuhnya kopi itu membentang dari ujung-ujung negeri kita. Antrian yang pingin dicoba masih panjang...Gayo Aceh, Toraja, Sidikalang, Bali dan nama-nama populer lainnya. Yang mungkin agak sulit itu mendapatkan jaminan originalitas dari kopinya. Seperti hari ini...baru kali ini icip-icip yang namanya Arabica Palembang, kata penjualnya begitu. Dan doktrin khusnudzon yang melekat membawa rasa percaya bahwa si penjual ngga  ngapusi  alias tipu-tipu. Namun, seduhan dengan rasa  sour  atau tingkat  acidity  yang mencirikan jenis Arabica yang nyaris ngga terasa, menyisakan tanya..."Asli ngga nih? Jangan-jangan...." Tapi...yasudahlah...berburu sumber-sumber lain mudah-mudahan saja selalu dapet yang original dari para suplayer yang kekeuh mau memper...

Ketapel vs KaTePeL

Gambar
Masih ingat betul ketika masih kanak dulu. Yang dinamai orang dengan ketapel atau dalam bahasa  Ponoragan  disebut  Plinthengan  itu pernah jadi semacam asesoris. Bisa untuk gaya-gayaan. Dikalungkan di leher dan tentu jelas, kebawa kemanapun pergi. Tapi jangan ditanya ketepatan bidikannya ya...dari seratusan butir pelor berupa kerikil itu, itungan genap lima butir saja yang tepat sasaran sudah sebuah prestasi.  (Eh tapi emang lima khan bukan bilangan genap toh? Seingatku masih belum berubah deh!) Karena saking populernya masa itu, para pemilik pohon, terutama pohon Sawo karena pohon jenis ini sangat bagus untuk bahan ketapel, sering merasa was-was. Boleh jadi, entah kapan saja akan didatangi anak-anak untuk minta ranting-ranting yang berbentuk  why piece,  yang biasa disebut cekeh itu. Atau malahan...kehilangan ranting-ranting itu di pagi hari lantaran pada malamnya  digerilya  anak-anak yang  nyokleki  ranting-ranting itu t...

Ojo Gumunan

Nasehat jaman  "dingin"  itu masih saja mencocok-i meski di era teknologi informasi masa kini, bahkan sampai nanti rasanya. Pesan yang sederhana itu sebetulnya punya muatan yang adiluhung. Ianya mengingati kita untuk tidak mudah takjub akan sesuatu ataupun sosok atau apapun. Dengan tidak gampang silau itulah maka kita bisa menyikapi sesuatu lebih berimbang. Teringat beberapa tahun lalu ketika kita tengah asyik ngobrol  kosong setengah-setengah isi  di lobi ruang tamu pabrik di Merak yang sudah laiknya ritual harian pasca makan siang. Seperti jamaknya model obrolan seperti itu, tema bisa berlompatan kesana kemari. Beralihnya itu bisa tak terduga. Dan itu terjadi ketika tiba-tiba saja tema berubah ke agama. Karena para  pengabab  itu semuanya muslim tentu bahasannya tentang keislaman. Salah satu orang yang terlibat dalam anjangsana itu termasuk sosok penting dalam organisasi. Dialah sang Pabrik figur. Seorang yang karirnya menanjak begitu tajam ...

Mencari Pemimpin Muslim, Sebuah Catatan Buruh Migrant

Benarkah kita ini sedang bersungguh-sungguh hendak mencari pemimpin muslim yang tangguh, pilih tanding dan mumpuni, yang memenuhi kriteria? Meski tidak semua kriteria itu tentu saja bisa terpenuhi sih. Maaf kata, kesannya menjadi seperti tidak serius, manakala penentuan siapa yang dimajukan dalam  pil-pil   itu kita pasrahkan sepenuhnya pada partai politik. Lalu kita hanya bisa menunggu dan bersetuju saja dengan segala pilihannya.  (Kita dalam konteks ini, terlebih adalah para penggede ormas atau orang yang punya massa, yang suaranya banyak didengar orang) Kegetolan  yang telah diperlihatkan sejauh ini dengan meneriakkan kata-kata agung dan himbauan tegas karena berlandaskan kitab suci  "Pilihlah hanya calon pemimpin yang muslim" , menjadi sumir, menjadi abu-abu. Tidak jelas. Sudah menjadi pengetahuan umum jika berurusan dengan partai politik maka mau tidak mau akan ada kontrak politik, ada transaksi, ada kesepakatan yang mesti dibuat, ada kompromi-...

SAMPAH

Mendengarnya saja seringkali kita sudah merasa tidak nyaman. Kebayang tumpukan tak beraturan, onggokan berbau tak sedap menyengat dan sekitarannya yang jorok serta gambaran-gambaran buruk lainnya. Sampah juga seringkali membawa pikiran langsung terhubung dengan aliran air di sungai yang terhambat. Tumpukan dengan jumlah yang sulit dipercaya, yang sering terlihat terjebak di pengatur debit air sungai atau di pintu-pintu air tidak saja sebagai sebab tidak lancarnya aliran air. Tetapi juga bukti perilaku buruk pemukim kota atau wilayah yang membuang sampah-sampahnya secara sembarangan. Sikap ngasal dan tak mau repot nyari tempat sampah adalah contoh umum yang sangat mudah ditemui. Kesadaran menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan itu nyatanya belum tumbuh di masyarakat kita yang padahal, secara keseharian sebenarnya sudah melek informasi. Ironi? Tetapi tentang sampah ini, ada yang lebih ironi lagi. Yaitu ketika "sampah" itu ternyata ikut dalam aliran informasi ...

Freeport vs Pemerintah RI

Fokus kudu digeser... Freeport dalam 120 hari dihitung mulai tanggal 18 Feb 2017 akan membawa kasusnya ke Arbitrase Internasional, Pemerintah Indonesia berhadapan dengan Freeport Mc Moran. Pemerintah RI menyodorkan IUPK Ijin Usaha Pertambangan Khusus pengganti KK yang sudah lama ada itu, yang akan menjadikan kendali negara lebih besar terhadap kekayaan alamnya. Serta mengarah nantinya kepada kepemilikan saham pemerintah hingga 51%. Freeport menolak, tentu saja, karena kendali akan beralih. 120 hari sebelum membawa ke Arbitrase Internasional Freeport mengajak Pemerintah mengupayakan win-win solution entah apa itu bentuknya. Langkah berani pemerintah ini (Pak Presiden dalam hal ini) jelas perlu dukungan masyarakat luas sebagaimana dulu dengan keras meminta pemerintah mengambil alih. Tantangan Pemerintah (terutama lagi-lagi, Pak Presiden) begitu besar karena melawan konsorsium raksasa yang di-backup Setan Besar. Yang kita masih juga ingat "perseteruan" yang sudah...

Ada Kecurangan!

Klasik. Pekik tentang kecurangan di setiap perhelatan coblos mencoblos pemilu itu selalu ada. Ya begitu adatnya, dari pengalaman, berpuluh kali dihelat berpuluh kali pula terjadi. Malah menjadi ganjil barangkali kalau ngga ada sama sekali yang teriak tentang kisah klasik ini. Yang terpenting itu jangan lantas mendakwa dengan penuh kepastian bahwa datangnya kecurangan itu dari tim paslon tertentu yang tak sejalan, tim paslon lawan. Pun juga memastikan panitia di tps yang tidak adil itu berpihak ke paslon "musuh". Ya bakalan kisruh, saling tuding, dan ngga kelar-kelar. Temuan-temuan di lapangan tentang pemilih yang ngga bisa memberikan hak suaranya, yang dibagikan di medsos rame-rame itu senyatanya tidak selalu dari kubu yang didukungnya khan? Ada juga berasal dari kubu lain. Mempercayakan ke pak/ibu seluruh perangkat yang dipunyai KPU bahwa kasus akan ditindak lanjuti lalu meninggalkan hujat menghujat dan ribut terus rasanya lebih elegan dan adem. Moga ke dep...

Hak Angkut Angkot dan Angket DPR

Teringat dulu ketika seorang kawan baru membeli angkutan kota alias angkot yang STNK dan perijinan trayeknya sedang dalam pengurusan. Karena masa tunggunya yang cukup lama, si kawan tidak sabar lebih lama lagi untuk segera narik. Lalu malam itu dia paksakan untuk keluar  ngider nyari  penumpang setelah pulang gawe. Maklum si kawan ini termasuk tipe orang yang ngga bisa diem. Dengan plat nopol bikinan, yang dipesen di tukang bikin plat itu, acara narik dimulai bahkan sejak keluar dari komplek perumahan. Wah jelas ini pelanggaran. Satu, pelanggaran penggunaan kendaraan tanpa surat. Kedua, pelanggaran terhadap ijin trayek. Ketiga, pelanggaran wilayah operasional. Nekat. Sampai di pusat kota kita masih aman-aman saja, dan beberapa penumpang berhasil kita antar sampai ke tujuan. Kebetulan mereka hanya sampai pusat kota saja perginya. Masalah baru muncul ketika melewati sebuah pos polisi, yang tak dinyana salah seorang polisi itu begitu awas dan sangat teliti. Kita...