Postingan

HANYA IGAUAN

Mata itu tak lagi bisa dibuka lebar Hanya separuh katup atau malah kurang Melemahnya koordinasi antar saraf yang bertanggung jawab pada semua aktifitasnya itulah pangkalnya Kelopaknya bak terberati beban Hingga hanya menyisakan ruang sempit Bagi kornea yang masih berhasrat menangkapi segala citra Lalu di antara jaga dan lena itulah Kenanaran, samar-samar, ke-tak jelas-an, bayang-bayang pucat, citra-citra distorsif yang memenuhinya Kantuk berat nan panjang itu Lalu menyeretnya masuk ke kedalaman alam warna-warni Tangkapan citra-citra distorsifnya ikut pula berbaur Berkelindan tak berjarak Bergumulan tak terpisah Bergelora membuncah-buncah Merambahi malam yang semakin dalam Dalam Dalam dan pekat Lalu suara keras memecah di ujung sunyi "THOGHUT...THOGHUUUT!!!" "Nak, banguuun...bangun nak! Engkau mengigau!."

Tembang Macapat

Lewat baris-baris kata yang dipilih dan disusun secara indah, lalu disenandungkan dengan tak kalah apiknya pula, adalah metode bernasihat, memberi pêpeling kepada khalayak yang dilakukan oleh para leluhur kita tempo doeloe. Budaya dan sastra merupakan sarana yang dipilih untuk ikut berpartisipasi dalam membangun karakter masyarakat dan bangsa. Karya-karya kesusastraan para leluhur yang adiluhung itu telah menjadi khasanah bangsa yang bernilai sangat tinggi. Karya-karya yang penuh nasihat dan petuah bijak itu agaknya akan tetap relevan dengan kondisi kekinian. Dari sekian banyak karya sastra yang telah para leluhur lahirkan itu, adalah Macapat yang konon termasuk ke dalam karya sastra tembang cilik, mempunyai banyak ragam di mana pada setiap ragam dari tembang itu memiliki kandungan nilai tersendiri yang amat bagus. Ada sebelas ragam atau jenis dalam Macapat yang isinya nasihat berkenaan dengan perjalanan hidup manusia dari semenjak dalam kandungan ibu hingga kembali kepada Sang ...

Kesahajaan Yang Tersalah-pahami

Berabad-abad lamanya Engkau tersimpan dan berpindah dalam sulbi-sulbi suci dan rahim-rahim pilihan Berabad-abad lamanya pula namaMu selalu disebut dan menjadi tuah dan azimat bagi para pengharap Engkau dinanti-nantikan sepanjang waktu hingga Engkau hadir di bulan Rabiul Awwal kala itu Menebar cinta, kasih sayang dan berkah bagi sekalian alam KehadiranMu bersama keagungan dan keluhuran sifat dan budi pekerti yang tak tertandingi oleh siapapun Telah menjadi rahmat bagi semesta raya Sekaligus penutup Kenabian, penyempurna agama dan akhlak sekalian manusia Keagungan, keluhuran dan segala keunggulanMu yang berbalutkan kesahajaan yang sangat luar biasa itu Ke-basariyah-anMu yang Engkau perlihatkan secara jelas dan terang Sungguh telah menjadi tabir tebal dan suatu perkara bagi sebagian ummatMu Hingga membuatnya berpurbasangka serampangan akan hal ikhwalMu Gegabah memperbandingkan, mempertanyakan, mensoalkan hal yang bagi sebagian orang teranggap sebagai amat terlarang yang bah...

Hikayat Mata Air

Mata air abadi itu terus saja memancarkan air yang jernih menyegarkan. Tanpa kenal putus. Barang sejenak pun. Airnya tetap terus mengalir melintasi sungai-sungai nan panjang tak berujung. Mengalir melintasi rentang waktu yang amat panjang. Bahkan hingga berakhirnya jaman. Ia memenuhi segala hajat, mencukupi segala kebutuhan. Men-tawarkan segala dahaga hingga membasuh sucikan hati-hati yang muram dan nestapa oleh beragamnya khilaf dan dosa, berpadu pengharapan dan rindu yang tak terperi. Adalah hikmah dan berkah dari gempa besar kala itu. Gempa tektonik bergesernya lempeng-lempeng bumi oleh sebab aktifitas bawah tanah. Gempa vulkanik yang memuntahkan lava dan bebatuan besarnya itu sempat menghadang dan menutup lintasannya. Hingga airnya meluap, meluber kemana-mana. Membanjiri tanah-tanah tandus, sawah-sawah gersang serta ladang-ladang yang kekeringan. Meluber mencari dan membentuk lintasan-lintasan baru. Adalah tanah-tanah persemaian yang selalu kekurangan air itulah yang menan...

Betapa Dalam Beragama Itu Bukan Perkara Mudah

Gus Mus dalam sebuah tausiahnya mengatakan kalau beliau pernah berandai-andai, alangkah enaknya jika hidup pada masa kenabian Rasulullah Muhammad SAW. Bagaimana tidak!. Kita bisa melihat Al-quran berjalan, bisa merujuk langsung pada sang pembawa risalah, merujuk dengan tidak ada bias sedikitpun tentang apa saja yang kita ragu, perselisihkan ataupun sangsikan. Bukankah Nabi dan segala yang beliau lakukan adalah wujud dari ilmu dan ahlak Al-quran?. Namun sejurus kemudian Gus Mus membantahnya sendiri, jangan-jangan dengan watak dan kelakuan kita seperti saat ini, boro-boro menjadi pengikut setia dan taat sama kanjeng Nabi, boleh jadi -ini yang amat sangat dikhawatirkan- malah menjadi bagian dari rombongan para pengingkar dan penentang Beliau!. Mirip dengan apa yang disampaikan oleh Gus Mus, pernah sekali waktu saya juga berandai-andai demikian. Apakah seandainya saya hadir pada masa-masa itu, saya akan sanggup berdiri tegak di barisan kanjeng Nabi?. Sementara kerasnya situasi pada ma...

Andai Bisa Diam

Tempo hari dalam percakapan WA grup sekolah saya jaman masih ingusan, salah satu kawan baik saya, Cak Igun yang praktisi dan ahli manufaktur dengan mesin perkakasnya itu menyeletuk, "Bro tak tunggu-tunggu tulisannya kok lama banget ngga muncul?". Atas 'peringatannya' itu saya sebenarnya agak-agak merasa gimana gitu. Antara tersanjung, malu dan beberapa hal lain yang tumpang tindih. Tapi, ah ternyata kok ada yang suka dan malah menunggu tulisan saya yang sebenarnya -lebih seringnya- sebagai ungkapan dari 'uneg-uneg' yang mengganggu pikiran dan seperti biasanya hal demikian itu cukup mereda ketika diceritakan atau -dalam konteks relasi media sosial- dituliskan. Jadi seperti curhat saja sebenarnya. Baiklah. "Tak turuti Cak, saya mulai nulis uneg-uneg lagi deh, hehehe". Saya teringat pada ungkapan "Diam Itu Emas". Apakah benar demikian adanya?. Dalam konteks tertentu memang iya, diam merupakan pilihan yang sangat berharga sehingga diseb...

Bang-bang Wetan

Semburat merah di ufuk timur itu pertanda, bahwa pagi kan datang dan malampun segera berlalu. Gulitanya segera sirna oleh benderang yang menjelang. Dan segala lelap penawar lelahpun harus terhenti. Citra-citra khayali dalam bubungan mimpi, yang tak sedikitpun peduli pada yang indah melenakan, maupun yang buruk mencekam, haruslah usai.  Karena mata sudah tak lagi pantas untuk terus terpejam. Karena kesadaran sudah saatnya harus dibangunkan. Dan semburat merah di ufuk timur itupun menyapa dan berpesan. Bahwa kita sudah harus melupakan segala mimpi dan halusinasi. Tinggalkan saja mereka itu di tepinya malam. Karena hidup adalah kenyataan dan bukanlah narasi dan opini yang tak berisi.  Ia harus dijalani dan diikhtiari dengan bangkit dan bergerak. Menyambut hangatnya mentari pagi dan menyongsongi hari dengan sepenuh harapan.  ==== "Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari k...

Sampai Kapan?

Ibu pertiwi belumlah berhenti menangis Air matanya masih terus bercucuran Berlelehan tak terseka Rona ayunya sirna tersaput kesedihan Duka tak berujung pangkal Hatinya perih luka mendapati anak-anaknya Tak kunjung berhenti bermusuhan Tak kunjung berhenti bersengketa Tentang apa saja Anak-anaknya masih saja seperti dulu Meski telah tumbuh dan beranjak menua Mereka nyatanya belum sekalipun menemui masa dewasanya Dan kepedihan itu semakin mendera-dera luka hatinya Manakala diantara mereka yang Ia harap bijaksana Menjadi guru-guru bangsa Tak lebih kini menjelma bagai Guru Durna Yang dari lidahnya Tersembur kata-kata Bercampuran antara bermakna dan berbisa Dan awampun semakin tercabik Berserak berpecahan Sampai kapan?

Wis Wayahe

Gambar
Ketika pilgub Jawa Timur tahun lalu, tagline ini begitu lekat dengan salah satu kandidat pemilihan gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa. Dan benar memang, di akhir pertarungan itu Ibu Khofifah "wis wayahe" jadi gubernur dengan memenangkan kontestasi itu. Berangkat dari keberhasilan itu, salah satu pimpinan dan pengasuh pondok pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang, KH. Hasib Wahab Chasbullah yang juga putra salah satu pendiri NU itu pernah melontarkan gagasan agar Prabowo-Sandi menggunakan tagline yang sama untuk mendapatkan coattail effect-nya di wilayah Jatim. Saran ini sontak disambut cukup meriah oleh banyak pendukung pasangan 02, setidaknya nampak dari ramainya percakapan di media sosial tentang tagline wis wayahe ini. Banyak yang menganggap sebagai "pertanda alam" atau "kehendak alam" yang lalu dilengkapi dengan berbagai macam unggahan atau postingan yang terkadang terkesan dipas-pasin alias cocoklogi untuk mendukung ke-wis wayahe-an itu...

Onani Massal Negativisme

Rasa cemas dan takut itu kalian hadirkan sendiri dalam angan dan imajinasi kalian Kalian hadirkan segenap pengancam yang tengah sibuk mengintimidasi kalian Menteror keselamatan hidup kalian, ekonomi kalian, lapangan pekerjaan kalian bahkan agama dan keyakinan kalian Kalian reka dan bangun keadaan dan rasa itu menjadi kian kokoh dari hari ke hari "Ini fakta! Ini nyata!" Itulah kata-kata argumen penguat kalian Lalu, kalian akan cerca habis, kalian kutuki, kalian laknati saban hari apa dan siapa saja yang ada di angan-khayal kalian itu Dan.... Serentak kalian teriak "Aku klimaks!!!"

Fiksi Siang Bolong

"BRAAAKKKKK!!!!" Suara cukup kencang terdengar dari meja yang beberapa saat masih menyisakan getar setelah digebrak oleh sebuah tangan perkasa. Tak bisa dipungkiri, tangan itu senyatanya masih cukup kuat meski pemiliknya sudah berumur lewat dari angka 60-an. Barangkali latihan-latihan fisik yang keras pada masa mudanyalah yang bisa membuatnya begitu. Sangat bisa dimaklumi memang jika keperkasaan itu dimilikinya bahkan hingga masih tersisa sampai hari ini. Sebagai hulubalang raja sememangnya bekal penunjang kesamaptaan diri itu baik fisik maupun psikis sangatlah penting, apalagi sebagai hulubalang kepala. Gebrakan keras pada meja yang terjadi hari itu, konon, lantaran salah seorang koleganya berusaha menahannya untuk tidak berlaku tergesa-gesa. Barangkali sang kolega itu mempunyai pandangan bahwa tidak ada yang bisa dipetik buah dari sesuatu yang didasari dengan ketergesaan. "Pergi Kau!"

Kwik Koen

Belum lama ini nama itu selalu disebut-sebut oleh sangat banyak orang. Dia dituduh telah membikin suasana gaduh segaduh-gaduhnya seantero negeri yang sedang mengadakan pesta akbar. Namanya memang terdengar mirip nama dari etnis Tionghoa, tapi sebenarnya dia tidak pernah berbangsa. Bahkan dia juga tak ber-gender. Kwik Koen saat ini sedang menghadapi masalah serius. Dia dipertanyakan tentang genetikanya, hingga para ahli -diwakili oleh Ba Paong- yang lagi sewot dengan keberadaannya itu menantang buka-bukaan untuk test DNA. Karena merasa tidak ada yang salah dengan dirinya maka Kwik Koen dengan sangat percaya diri berani menjawab tantangannya. Alhasil, setelah rangkaian test itu dilakukan, sebagai imbalan atas kesediannya itu, Kwik Koen meminta balik pada Ba Paong dan para ahli tersebut untuk juga menjalani test yang sama. Dan agaknya Kwik Koen hingga hari yang telah lewat harus menelan ludah dan menggigit jarinya karena imbalan itu tak kunjung diberikan hingga batas waktu yang tidak...

"Ndoro" Elit Politik

Dulu, di kampung tempat ibu saya lahir dan dibesarkan, ada sebuah rumah dengan arsitektur bangunannya yang jauh berbeda dengan kebanyakan rumah yang ada di sekitarnya. Atapnya bergenteng jenis Karangpilang yang telah kesohor itu, yang harganya bisa berlipat dari genteng yang biasa dipakai penduduk pada umumnya. Rumah itu bagus mentereng, bercat putih penuh wibawa, rapih terawat dengan berbagai tanaman dan bebungaan yang memberi nuansa asri harmoni. Pekarangannya pun amat luas hingga membuat rumahnya terkesan nampak kecil saja. Pintu dan jendela yang berwarna kuning gading yang amat jarang terbuka, ditambah pagar tembok cukup tinggi yang mengelilinginya serta pintu gerbang yang selalu terkunci itu makin mengentalkan kesan eksklusifnya. Berjarak. Adalah seorang tuan, priyayi berdarah biru kerabat keraton yang berasal dari kota besar di Jawa Tengah-lah sang pemilik rumah itu. Sang tuan jarang atau bahkan hampir tak pernah nampak disana karena memang hanya sesekali saja priyayi agung itu...

Diamuk Renjana Kuasa?

'Pengadilan' paling demokratis terhadap para ndoro elit politik yang menurut kita tidak layak pakai, dan menghukum mereka tanpa lembaga peradilan agar berhenti dari kiprah politik praktisnya adalah di bilik suara. Rakyat-lah yang akan menghakimi mereka semua itu melalui suara yang mereka punya. Dan itu sudah dilakukan oleh para pemilik mandat lebih dari seminggu yang lalu. Kini hanya tinggal menunggu hasil dari 'penghakiman' rakyat itu seperti apa. Jauh-jauh hari sebelumnya, paling tidaknya yang tergambar di media sosial,  teramat banyak orang mengatakan: "Kita tenggelamkan mereka nanti di tanggal 17 April 2019".  Dan saya kira banyak yang sepakat bahwa pencoblosan adalah wujud dari sebuah people power yang sebenarnya. People power (lunak) yang sangat elegan dan berkeadaban tanpa adanya kekerasan fisik yang berpotensi menimbulkan banyak korban. Kalaulah dalam pelaksanaan pemilu kemarin berjatuhan korban juga, lantaran beban kerja yang kelewat berat akibat...

LABELLING (1)

Gambar
Sudah barang tentu bagi orang-orang yang berkecimpung dalam dunia industri manufaktur, terutamanya industri yang terkait erat dengan bahan kimia, beberapa gambar/label yang saya sertakan ini sudah tidak asing lagi. Malahan sudah sangat familiar. Kita, orang-orang yang secara guyonan disebut "pabrik figur" oleh karena "dedikasi" atas waktu dan tenaga untuk pabrik (halah kuli pabrik wae ndadak cem-macem barang!! aahhh...iya ya) akan selalu memberikan perhatian lebih pada label-label sejenis itu ketika akan melakukan penanganannya, oleh karena pentingnya informasi yang ada padanya. Dengan mengetahui secara benar apa jenisnya dan prosedur bagaimana bahan-bahan itu harus ditangani, terlebih jika terjadi keadaan yang tidak diinginkan, kita telah melakukan semacam jaminan keselamatan baik bagi diri sendiri, orang lain, lingkungan maupun badan usaha kita. Tentu ujungnya juga pada kelancaran proses produksi -imbasnya ya keuntungan pabrik dan bayaran toh- dan juga...